Ini bukan tentang kematian mu. Tapi tentang kenyataan bahwa kematian dapat memutuskan hubungan begitu cepat.
Tentang kernyataan di tinggalkan lebih menyakitkan dari meninggalkan. Mungkin ini klasik atau sebuah romansa kegelisahan yang berlebihan tapi demikian adanya, kau mungkin orang yang tepat untuk mengatakan aku ingin memilikimu selamanya namun kenyataan membuktikan satu dengan yang lain akan terpisah suatu waktu tanpa seorang pun yang mampu membendung.
Kecuali marasa kehilangan berpisah juga tentang meninggalkan serpihan-serpihan kepribadian. Sedikit banyak keutuhan kepribadian kita hari ini tidak terlepas dari serpihan-serpihan kepribadian orang-orang yang pernah bersama kita. Lalu mereka pergi. Serpihan itu kemudian terakumulasi menjadi satu bentuk yang utuh dalam diri kita.
Ah, aku tidak mau hanya meninggalkan itu. Aku ingin kau mengetahui tentang ku lebih dari yang kau tau selama kita bersama atau mungkin kita belum sempat saling berkenalan. Kau belum pernah benar-benar tau apa yang aku inginkan, tentang sesuatu yang belum aku lakukan atau sesuatu yang ingin aku kerjakan.
Sekarang aku ingin kau mengetahuinya, bahwa aku ingin hidup setelah mati. Karena suatu saat yang tertinggal dari diri kita hanya kata-kata. Karena itu aku menulis. (rj)
More about → Tulisan dan Kematian